Senin, 25 April 2016

Allah is Near (2 : 186)

Diposting oleh Nizza al husna di 19.44
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (2:186)

Allah itu dekat, Allah itu dekat. Bagi yang paham bahasa Arab maka akan sangat dan sangat mendalam makna ini dalam bahasa Arab. Maka dari membaca ayat ini tergambar bahwa memang Allah itu dekat, sehingga ketika berzdikir atau shalat seharusnya tidak harus kening mengkerut untuk konsentrasi mengingat Allah, sebab Allah dekat.
Allah sudah dekat bersama kita, hanya kita kadang merasakannya jauh. Dengan mengetahui bahwa Allah dekat maka desiran hati, lintasan hati, untaian doa akan langsung di dengar Allah. Allah Maha Halus. Allah Maha Mendengar.
Bahkan tidak hanya dekat dalam arti dekat seperti pengalaman ketika membaca Al Baqarah 2:186, bahkan Allah mengatakan lebih dekat dari urat leher.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (50:16)
Sebuah ayat yang sangat jelas, menekankan bahwa Allah itu begitu dekatnya sehingga dikatakan lebih dekat dari urat leher kita. Kita bisa bayangkan apa yang lebih dekat lagi dari urat leher. Ayat ini secara jelas gamblang memang begitu dekatnya dengan kita sehingga secara simbolis dan secara nyata dikatakan Allah lebih dekat daripada urat leher kita.
Dan Allah mengetahui bisikan hati kita. Sungguh sebuah pernyataan yang membahagiakan karena keinginan kita dengan tadarus Al Quran tidak lain adalah sebuah statement bahwa kita ingin dekat dengan Allah. Allah sendiri sudah dekat, maka kita lah yang meneguhkan diri bahwa Allah dekat.
Kita kadang merasa Allah itu jauh. Allah itu tidak terjangkau. Allah seperti dikatakan sebagian orang bisa terhubung melalui orang-orang suci.Atau dikatakan kalau kita banyak dosa, hubungan dengan Allah terputus atau sulit. Kita kadang berpendapat, tidak memiliki akses kepada Allah karena Allah jauh. Kita kadang merasa bahwa Allah dimana kita akan kembali jauh, padahal sudah jelas Allah itu dekat.
Begitu Allah menyadarkan akan diri ini betapa dekat, maka yang ada adalah keakraban, keinginan senantiasa dekat karena Allah Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Kaya, Maha Mengetahui dan segala atribut kebesarannya.
Tidak heran kalau ada orang yang begitu didengarkan nama Allah, maka hatinya bisa tertambat, bisa tersambung bahkan bisa meneteskan air mata kebahagiaan karena seruannya disambut Allah. Inilah proses yang bisa dialami ketika membaca ayat demi ayat selama Ramadhan ini.
Allah itu dekat mengingatkan kembali akan materi materi Ma’rifatullah, sebuah rangkaian pengetahuan yang sudah banyak kita ketahui namun kadang tidak kita rasakan. Pengetahuan yang hanya tersangkut di otak tetapi tidak sampai kepada qalbu. Maka sering kali ilmu itu lari karena tidak Allah tambatkan kepada qalbu kita. Seringkali ketika berdiskusi lupa bahwa Allah tahu apa yang kita fikirkan, kita sembunyikan, kita tuliskan kita ucapkan. Allah akan menyambungkan hati-hati ini kalau ada kesamaan gelombang untuk menuju kepada Nya.
Membaca kembali surat Al Baqarah ayat 186, Allah tidak hanya dekat kepada kita, bahkan Allah menjawab doa doa kita.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (2:186)
Allah menjawab, Allah Maha Mendengar. Jadi meski kita dalam perjalanan menemui-Nya ternyata Allah sudah mengatakan dekat. Meski kita sedang dalam menuju Ridha-Nya, Allah itu sangat dekat dengan keseharian kita.
Beberapa ayat dan keterangan ayat-ayat lain menguatkan Iman kepada Allah bahwa Allah itu Maha Halus, Maha Dekat dengan diri kita masing-masing.

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. (QS. Qaff (50): 16)
Bisakah anda bayangkan bahwa urat leher kita berada dalam tubuh kita dan menyatu dengan kita. Tetapi Allah mengatakan mengatakan bahwa Dia lebih dekat dari pada urat leher kita. Saya kira kesimpulannya hanya satu yakni bahwa Allah menyatu dengan kita atau sebaliknya, kita ini yang menyatu dengan Allah.
Jika diperluas pemahaman tersebut, kita bisa mengatakan bahwa Allah berada dihati kita. Allah juga berada ditarikan dan hembusan nafas kita. Allah berada dialiran darah dan denyut jantung kita. Allah juga berada diseluruh kelenjar hormone kita. Allah berada dibenak pikiran kita, otak dan seluruh saraf tubuh kita. Allah berada dimilyaran proses biokimiawi yang menopang kehidupan kita. Allah-lah yang berperan dalam menghidupkan seluruh aktifitas kehidupan kita, yang kita sadari maupun tidak dan yang bisa kendalikan maupun tidak. Allah adalah penguasa kehidupan kita sepenuhnya dan mutlak.
Pemahaman seperti diatas akan membawa konsekuensi yang sangat radikal dalam ketauhidan kita. Lantas kita memperoleh kesimpulan bahwa ternyata Allah tidak berjarak sama sekali dengan makhluk-NYA. Karenanya kita sangat bisa memahami kenapa Allah mengatakan bahwa Dia tau persis apa yang dibisikkan oleh hati dan pikiran kita. Karena Allah memang berada dihati dan pikiran kita sendiri. Lalu kita juga bisa mengerti kenapa Allah mengatakan bahwa kita dalam berdoa tidaklah perlu dengan suara yang keras, karena Allah memang menyatu dalam setiap tarikan nafas dan getaran suara kita. Cukuplah berdoa dengan cara suara berbisik-bisik kepada Allah karena Allah Maha Pendengar dan lebih dekat dari pada urat leher kita.
Kemudia kita juga akan berpikiran kenapa kita harus menengadah kelangit ketika kita berdoa. Sementara kita tau bahwa Allah begitu dekatnya bersama kita disini. Juga menjadi aneh ketika kita membayangkan dalam shalat kita bahwa Allah berada didepan kita. Sungguh dalam waktu yang bersamaan, Allah sedang berada didepan, dibelakang, diKanan, diKiri, di atas, dibawah, dan didalam diri kita. Atau yang lebih tepat lagi. “Kita sebenarnya sedang berada didalam-NYA dan bersatu dengan Allah.”

0 komentar:

Senin, 25 April 2016

Allah is Near (2 : 186)

Diposting oleh Nizza al husna di 19.44
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (2:186)

Allah itu dekat, Allah itu dekat. Bagi yang paham bahasa Arab maka akan sangat dan sangat mendalam makna ini dalam bahasa Arab. Maka dari membaca ayat ini tergambar bahwa memang Allah itu dekat, sehingga ketika berzdikir atau shalat seharusnya tidak harus kening mengkerut untuk konsentrasi mengingat Allah, sebab Allah dekat.
Allah sudah dekat bersama kita, hanya kita kadang merasakannya jauh. Dengan mengetahui bahwa Allah dekat maka desiran hati, lintasan hati, untaian doa akan langsung di dengar Allah. Allah Maha Halus. Allah Maha Mendengar.
Bahkan tidak hanya dekat dalam arti dekat seperti pengalaman ketika membaca Al Baqarah 2:186, bahkan Allah mengatakan lebih dekat dari urat leher.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (50:16)
Sebuah ayat yang sangat jelas, menekankan bahwa Allah itu begitu dekatnya sehingga dikatakan lebih dekat dari urat leher kita. Kita bisa bayangkan apa yang lebih dekat lagi dari urat leher. Ayat ini secara jelas gamblang memang begitu dekatnya dengan kita sehingga secara simbolis dan secara nyata dikatakan Allah lebih dekat daripada urat leher kita.
Dan Allah mengetahui bisikan hati kita. Sungguh sebuah pernyataan yang membahagiakan karena keinginan kita dengan tadarus Al Quran tidak lain adalah sebuah statement bahwa kita ingin dekat dengan Allah. Allah sendiri sudah dekat, maka kita lah yang meneguhkan diri bahwa Allah dekat.
Kita kadang merasa Allah itu jauh. Allah itu tidak terjangkau. Allah seperti dikatakan sebagian orang bisa terhubung melalui orang-orang suci.Atau dikatakan kalau kita banyak dosa, hubungan dengan Allah terputus atau sulit. Kita kadang berpendapat, tidak memiliki akses kepada Allah karena Allah jauh. Kita kadang merasa bahwa Allah dimana kita akan kembali jauh, padahal sudah jelas Allah itu dekat.
Begitu Allah menyadarkan akan diri ini betapa dekat, maka yang ada adalah keakraban, keinginan senantiasa dekat karena Allah Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Kaya, Maha Mengetahui dan segala atribut kebesarannya.
Tidak heran kalau ada orang yang begitu didengarkan nama Allah, maka hatinya bisa tertambat, bisa tersambung bahkan bisa meneteskan air mata kebahagiaan karena seruannya disambut Allah. Inilah proses yang bisa dialami ketika membaca ayat demi ayat selama Ramadhan ini.
Allah itu dekat mengingatkan kembali akan materi materi Ma’rifatullah, sebuah rangkaian pengetahuan yang sudah banyak kita ketahui namun kadang tidak kita rasakan. Pengetahuan yang hanya tersangkut di otak tetapi tidak sampai kepada qalbu. Maka sering kali ilmu itu lari karena tidak Allah tambatkan kepada qalbu kita. Seringkali ketika berdiskusi lupa bahwa Allah tahu apa yang kita fikirkan, kita sembunyikan, kita tuliskan kita ucapkan. Allah akan menyambungkan hati-hati ini kalau ada kesamaan gelombang untuk menuju kepada Nya.
Membaca kembali surat Al Baqarah ayat 186, Allah tidak hanya dekat kepada kita, bahkan Allah menjawab doa doa kita.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (2:186)
Allah menjawab, Allah Maha Mendengar. Jadi meski kita dalam perjalanan menemui-Nya ternyata Allah sudah mengatakan dekat. Meski kita sedang dalam menuju Ridha-Nya, Allah itu sangat dekat dengan keseharian kita.
Beberapa ayat dan keterangan ayat-ayat lain menguatkan Iman kepada Allah bahwa Allah itu Maha Halus, Maha Dekat dengan diri kita masing-masing.

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. (QS. Qaff (50): 16)
Bisakah anda bayangkan bahwa urat leher kita berada dalam tubuh kita dan menyatu dengan kita. Tetapi Allah mengatakan mengatakan bahwa Dia lebih dekat dari pada urat leher kita. Saya kira kesimpulannya hanya satu yakni bahwa Allah menyatu dengan kita atau sebaliknya, kita ini yang menyatu dengan Allah.
Jika diperluas pemahaman tersebut, kita bisa mengatakan bahwa Allah berada dihati kita. Allah juga berada ditarikan dan hembusan nafas kita. Allah berada dialiran darah dan denyut jantung kita. Allah juga berada diseluruh kelenjar hormone kita. Allah berada dibenak pikiran kita, otak dan seluruh saraf tubuh kita. Allah berada dimilyaran proses biokimiawi yang menopang kehidupan kita. Allah-lah yang berperan dalam menghidupkan seluruh aktifitas kehidupan kita, yang kita sadari maupun tidak dan yang bisa kendalikan maupun tidak. Allah adalah penguasa kehidupan kita sepenuhnya dan mutlak.
Pemahaman seperti diatas akan membawa konsekuensi yang sangat radikal dalam ketauhidan kita. Lantas kita memperoleh kesimpulan bahwa ternyata Allah tidak berjarak sama sekali dengan makhluk-NYA. Karenanya kita sangat bisa memahami kenapa Allah mengatakan bahwa Dia tau persis apa yang dibisikkan oleh hati dan pikiran kita. Karena Allah memang berada dihati dan pikiran kita sendiri. Lalu kita juga bisa mengerti kenapa Allah mengatakan bahwa kita dalam berdoa tidaklah perlu dengan suara yang keras, karena Allah memang menyatu dalam setiap tarikan nafas dan getaran suara kita. Cukuplah berdoa dengan cara suara berbisik-bisik kepada Allah karena Allah Maha Pendengar dan lebih dekat dari pada urat leher kita.
Kemudia kita juga akan berpikiran kenapa kita harus menengadah kelangit ketika kita berdoa. Sementara kita tau bahwa Allah begitu dekatnya bersama kita disini. Juga menjadi aneh ketika kita membayangkan dalam shalat kita bahwa Allah berada didepan kita. Sungguh dalam waktu yang bersamaan, Allah sedang berada didepan, dibelakang, diKanan, diKiri, di atas, dibawah, dan didalam diri kita. Atau yang lebih tepat lagi. “Kita sebenarnya sedang berada didalam-NYA dan bersatu dengan Allah.”

0 komentar on "Allah is Near (2 : 186)"

 

Nizza Al Husna Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea