Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran. (2:186)
Allah itu dekat, Allah itu dekat. Bagi yang paham bahasa Arab maka akan sangat dan sangat mendalam makna ini dalam bahasa Arab. Maka dari membaca ayat ini tergambar bahwa memang Allah itu dekat, sehingga ketika berzdikir atau shalat seharusnya tidak harus kening mengkerut untuk konsentrasi mengingat Allah, sebab Allah dekat.
Allah
sudah dekat bersama kita, hanya kita kadang merasakannya jauh. Dengan
mengetahui bahwa Allah dekat maka desiran hati, lintasan hati, untaian doa akan
langsung di dengar Allah. Allah Maha Halus. Allah Maha Mendengar.
Bahkan
tidak hanya dekat dalam arti dekat seperti pengalaman ketika membaca Al Baqarah
2:186, bahkan Allah mengatakan lebih dekat dari urat leher.
Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami
lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (50:16)
Sebuah
ayat yang sangat jelas, menekankan bahwa Allah itu begitu dekatnya sehingga
dikatakan lebih dekat dari urat leher kita. Kita bisa bayangkan apa yang lebih
dekat lagi dari urat leher. Ayat ini secara jelas gamblang memang begitu dekatnya
dengan kita sehingga secara simbolis dan secara nyata dikatakan Allah lebih
dekat daripada urat leher kita.
Dan Allah mengetahui bisikan hati kita. Sungguh sebuah pernyataan yang
membahagiakan karena keinginan kita dengan tadarus Al Quran tidak lain adalah
sebuah statement bahwa kita ingin dekat dengan Allah. Allah sendiri sudah
dekat, maka kita lah yang meneguhkan diri bahwa Allah dekat.
Kita
kadang merasa Allah itu jauh. Allah itu tidak terjangkau. Allah seperti
dikatakan sebagian orang bisa terhubung melalui orang-orang suci.Atau dikatakan
kalau kita banyak dosa, hubungan dengan Allah terputus atau sulit. Kita kadang
berpendapat, tidak memiliki akses kepada Allah karena Allah jauh. Kita kadang
merasa bahwa Allah dimana kita akan kembali jauh, padahal sudah jelas Allah itu
dekat.
Begitu
Allah menyadarkan akan diri ini betapa dekat, maka yang ada adalah keakraban,
keinginan senantiasa dekat karena Allah Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Kaya,
Maha Mengetahui dan segala atribut kebesarannya.
Tidak
heran kalau ada orang yang begitu didengarkan nama Allah, maka hatinya bisa
tertambat, bisa tersambung bahkan bisa meneteskan air mata kebahagiaan karena
seruannya disambut Allah. Inilah proses yang bisa dialami ketika membaca ayat
demi ayat selama Ramadhan ini.
Allah
itu dekat mengingatkan kembali akan materi materi Ma’rifatullah, sebuah
rangkaian pengetahuan yang sudah banyak kita ketahui namun kadang tidak kita
rasakan. Pengetahuan yang hanya tersangkut di otak tetapi tidak sampai kepada
qalbu. Maka sering kali ilmu itu lari karena tidak Allah tambatkan kepada qalbu
kita. Seringkali ketika berdiskusi lupa bahwa Allah tahu apa yang kita
fikirkan, kita sembunyikan, kita tuliskan kita ucapkan. Allah akan
menyambungkan hati-hati ini kalau ada kesamaan gelombang untuk menuju kepada
Nya.
Membaca
kembali surat Al Baqarah ayat 186, Allah tidak hanya dekat kepada kita, bahkan
Allah menjawab doa doa kita.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran. (2:186)
Allah menjawab, Allah Maha
Mendengar. Jadi meski kita dalam perjalanan menemui-Nya ternyata Allah sudah
mengatakan dekat. Meski kita sedang dalam menuju Ridha-Nya, Allah itu sangat
dekat dengan keseharian kita.
Beberapa ayat dan keterangan
ayat-ayat lain menguatkan Iman kepada Allah bahwa Allah itu Maha Halus, Maha
Dekat dengan diri kita masing-masing.
—
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. (QS. Qaff (50): 16)
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. (QS. Qaff (50): 16)
Bisakah
anda bayangkan bahwa urat leher kita berada dalam tubuh kita dan menyatu dengan
kita. Tetapi Allah mengatakan mengatakan bahwa Dia lebih dekat dari pada urat
leher kita. Saya kira kesimpulannya hanya satu yakni bahwa Allah menyatu dengan
kita atau sebaliknya, kita ini yang menyatu dengan Allah.
Jika
diperluas pemahaman tersebut, kita bisa mengatakan bahwa Allah berada dihati
kita. Allah juga berada ditarikan dan hembusan nafas kita. Allah berada
dialiran darah dan denyut jantung kita. Allah juga berada diseluruh kelenjar
hormone kita. Allah berada dibenak pikiran kita, otak dan seluruh saraf tubuh
kita. Allah berada dimilyaran proses biokimiawi yang menopang kehidupan kita.
Allah-lah yang berperan dalam menghidupkan seluruh aktifitas kehidupan kita,
yang kita sadari maupun tidak dan yang bisa kendalikan maupun tidak. Allah
adalah penguasa kehidupan kita sepenuhnya dan mutlak.
Pemahaman
seperti diatas akan membawa konsekuensi yang sangat radikal dalam ketauhidan
kita. Lantas kita memperoleh kesimpulan bahwa ternyata Allah tidak berjarak
sama sekali dengan makhluk-NYA. Karenanya kita sangat bisa memahami kenapa
Allah mengatakan bahwa Dia tau persis apa yang dibisikkan oleh hati dan pikiran
kita. Karena Allah memang berada dihati dan pikiran kita sendiri. Lalu kita
juga bisa mengerti kenapa Allah mengatakan bahwa kita dalam berdoa tidaklah
perlu dengan suara yang keras, karena Allah memang menyatu dalam setiap tarikan
nafas dan getaran suara kita. Cukuplah berdoa dengan cara suara berbisik-bisik
kepada Allah karena Allah Maha Pendengar dan lebih dekat dari pada urat leher
kita.
Kemudia
kita juga akan berpikiran kenapa kita harus menengadah kelangit ketika kita
berdoa. Sementara kita tau bahwa Allah begitu dekatnya bersama kita disini.
Juga menjadi aneh ketika kita membayangkan dalam shalat kita bahwa Allah berada
didepan kita. Sungguh dalam waktu yang bersamaan, Allah sedang berada didepan,
dibelakang, diKanan, diKiri, di atas, dibawah, dan didalam diri kita. Atau yang
lebih tepat lagi. “Kita sebenarnya sedang berada didalam-NYA dan bersatu dengan
Allah.”

0 komentar:
Posting Komentar