Rasanya
aku masih belum paham pria macam apa yang dulu bisa begitu kucintai kini telah
berubah menjadi manusia lain. Aku tidak pernah melihat kamu yang seperti ini.
Kamu yang tak peduli, kamu yang mengucapkan janji setengah hati, kamu yang tak
pernah mau jelaskan dan menjawab pertanyaanku, dan kamu yang kali ini tidak
lagi kukenali. Aku tidak tahu siapa pria yang kali ini membalas pesan
singkatku, pria yang begitu mudah berkata putus.
Kamu
tahu, Sayang, aku sudah sesabar apa. Aku rela tidak menuntutmu ini itu, karena
pekerjaanmu yang segunung dan tak bisa sering-sering memberi kabar untukku. Aku
tidak memintamu selalu menghubungiku sepanjang waktu, berusaha tak memarahimu
ketika kamu lelah dengan pekerjaanmu dan kamu melarikan semua amarahmu dengan
cara menyakitiku. Aku setia jadi tempat curahan hatimu, tempat kamu membentak
seluruh isi dunia, tempat kamu membenci hari-hari. Aku berusaha sekuat mungkin
jadi dinding kokoh yang kauludahi, kaucoret-coret, kaukotori tanpa aku memakimu
balik. Apakah kautak melihat kesabaran hati seorang perempuan dari semua
sikapku yang selalu menahan diri untuk tak menangis di depanmu?
Kamu
tak lihat air mataku, tak lihat juga seberapa parah lukaku selama ini. Aku tak
pernah berusaha berteriak seperti kamu selalu meneriakiku, tak mau melukaimu
seperti kamu selalu melukaiku. Apakah perempuan lain yang selalu membuatku
harus bersabar lebih banyak lagi ada perempuan yang pantas kaudatangi?
Kali
ini, biarkan hatiku teriris sendiri. Biarkan aku yang terluka parah, biarkan
aku yang menangis diam-diam sekarang. Tapi, lihatlah nanti, Sayang. Suatu
saat nanti, air mataku berubah menjadi senyum tak berkesudahan. Aku sebenarnya
tahu apa yang harus kulakukan, pergi meninggalkanmu, melupakanmu, dan
menganggap semua tak pernah terjadi. Namun, sekarang aku masih bersabar untuk
menghadapimu, aku masih ingin memberimu kesempatan untuk yang ke beribu kali.
Jika kesabaranku ini masih ingin kamu sia-siakan, mungkin jalan terbaik memang
harus pergi. Karena kamu bukan lagi pria yang kukenal seperti dulu lagi, bukan
pria manis yang kucintai karena ketulusan dan keramahannya.
Kamu
berubah jadi pria lain, pria egois yang selalu ingin dimengerti kesibukkannya,
dan membiarkan aku menunggu sabar tanpa melawan ataupun membuka suara. Aku tak
tahu mengapa perjuanganku hanya kauanggap angin lalu. Apa matamu tak terbuka
untuk menyadari siapa perempuan yang selama ini jatuh bangun hanya untuk
mencintaimu?
Biarlah
waktu yang membuatmu sadar, Sayang. Biarkan aku yang hanya kauanggap angin lalu
ini pergi pelan-pelan dari hidupmu. Beri aku kesempatan untuk menghirup udara
bebas dan tak lagi menangisi sikap cuekmu selama ini.
Permintaanku
tak banyak, aku hanya ingin kamu yang dulu kembali lagi ke masa kini.
Entahlah.... rasanya aku sangat ingin kamu yang dulu. Kamu yang lugu, polos, dan
nyatanya aku takut kehilanganmu . Aku rindu kamu yang dulu.
dwitasari edit by nizza

0 komentar:
Posting Komentar