Rabu, 14 November 2012

19th

Diposting oleh Nizza al husna di 02.24 0 komentar

              HAPPY BIRTHDAY TO ME :)

SELAMAT ULANG TAHUN NIZZA
THANKS FOR ALL, BUAT SEMUA YANG UDAH NGUCAPIN DAN MAKASIH BUAT DOANYA :-*

Allah SWT, terima kasih telah memberikan nikmat yang begitu besar bahkan tak dapat terhitung hingga sekarang.
Keluarga, thx for my parent, adik-adikku :-* I LOVE YOU
Sahabat, makasih ucapan dan doanya. semoga kita tetap saling berbagi :)
Teman-temanku, semoga doa-doa yg kalian ucapkan terkabul . amiiin.


Haii yang disana, apa kabar? Harusnya aku ga nunggu kamu buat ngucapin tapi nyatanya aku tetap menunggu. Betapa bodohnya aku. Tanpamu, aku bisa :') . Selamat tinggal. Mungkin ini awal yang baru untukku untuk "benar-benar" melupakanmu. 

Goodbye dear. 



and thanks all, terima kasih banyak kepada semua yang telah memberikan perhatiannya kepadaku. I LOVE YOU :-*

Minggu, 11 November 2012

"KAU"

Diposting oleh Nizza al husna di 02.49 0 komentar
Seandainya kau ada disini denganku

Mungkin ku tak sendiri


Bayanganmu yang selalu menemaniku


Hiasi malam sepiku


Kuingin bersama dirimu


Ku tak akan pernah berpaling darimu


Walau kini kujauh darimu


Kan slalu kunanti


Karena ku sayang kamu

Hati ini selalu memanggil namamu, dengarlah melatiku

 
Ku berjanji hanyalah untukmu cintaku


Adakah rindu dihatimu, seperti rindu yang kurasa


Haruskah ku terus terlena, tanpamu di sisiku


Ku kan slalu menantimu

Rabu, 24 Oktober 2012

Tanpamu :")

Diposting oleh Nizza al husna di 23.15 0 komentar

Tanpamu...
Aku terbangun seperti biasa. Menatap handphone beberapa lama lalu melirik diam-diam kearah jam. Menatap langit-langit kamar yang sama. Letak lemari, meja belajar, dan rak buku juga masih sama. Tak ada yang berbeda disini. Aku masih bernapas, jantungku masih berdetak, dan denyut nadiku masih bekerja normal. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti biasa, tapi apakah yang terlihat oleh mata benar-benar sama dengan yang dirasakan oleh hati?
Mataku berkunang-kunang, pagi tadi memang sangat dingin. Aku menarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam disana. Dan, tetap saja tak kutemukan kehangatan, tetap menggigilaku sendirian. Dengan kenangan yang masih menempel dalam sudut-sudut luas otak, seakan membekukan kinerja hati. Aku berharap semua hanya mimpi, dan ada seseorang yang secara sukarela membangunkanku atau menampar wajahku dengan sangat keras. Sungguh, aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang terlalu sering kukejar. Sekali lagi, aku masih sendiri, bermain dengan masa lalu yang sebenarnya tak pernah ingin kuingat lagi.
Sudah tanggal 15. Seberapa pentingkah tanggal itu? Ya memang tidak penting bagi siapapun yang tak mengalami hal special di tanggal 15. Kita masuk ke bulan Oktober. Bulan yang baru. Harapan baru. Mimpi yang baru. Cita-cita yang baru. Juga kadang, tak ada yang baru. Aku hanya ingin kau tahu, tak semua yang baru menjamin kebahagiaan. Dan, tak semua yang disebut masa lalu akan menghasilkan air mata. Aku begitu yakin pada hal itu, sampai pada akhirnya aku tahu rasanya perpisahan. Aku tahu rasanya melepaskan diri dari segala hal yang sebenarnya tak pernah ingin kutinggalkan. Aku semakin tahu, masa lalu setidaknya selalu jadi sebab. Kamu, yang dulu kumiliki tak lagi  bisa kugenggam dengan jemari.
Kita berpisah, tanpa alasan yang jelas, tanpa diskusi dan interupsi. Iya, berpisah, begitu saja. Seakan-akan semua hanyalah masalah sepele, bisa begitu mudah disentil oleh hentakkan kecil. Sangat mudah, sampai aku benar-benar mengerti, apakah kita memang telah benar-benar berpisah? Atau dulu, sebenarnya kita tak punya keterikatan apa-apa. Hanya saja aku dan kamu senang mendengungkan rasa yang sama, cinta yang dulu kita bela begitu manis berbisik. Lirih dingin memesona Segala yang semu menggoda aku dan kamu, kemudian menyatulah kita, dalam rasa (yang katanya) cinta.
Aku mulai berani melewati banyak hal bersamamu. Kita habiskan waktu, dengan langkah yang sama, dengan denyut yang tak berbeda, begitu seirama tanpa cela, tanpa cacat. Sempurna. Dan, aku bahagia. Bahagia? Benarkah aku dan kamu pernah merasa bahagia? Jika iya, mengapa kita memilih perpisahan sebagai jalan? Jika bahagia adalah jawaban, mengapa aku dan kamu masih sering bertanya-tanya? Pada tuhan, pada manusia lainnya, dan kepada hati kita sendiri. Kenapa harus kau ubah mimpi menjadi api? Mengapa kau ubah pelangi menjadi bui? Mengapa harus kau ciptakan luka, jika selama ini kau merasa kita telah sampai di puncak bahagia?
Kegelisahanku meningkat, ketika aku memikirkanmu, ketika aku memikirkan pola makanmu, juga kesehatanmu. Aku bahkan masih mengkhawatirkanmu, masih diam-diam mencari tahu kabarmu, dan aku masih merasa sakit jika tahu sudah ada yang lain, yang mengisi kekosongan hatimu. Seharusnya, aku tak perlu merasa seperti itu, karena kau masa lalu, karena kita tidak terikat apa-apa lagi. Benar, akulah yang bodoh, yang tak memutuskan diri untuk segera berhenti. Aku masih berjalan, terus berjalan, dengan penutup mata yang tak ingin kubuka. Semuanya gelap, tanpamu kosong.
Ternyata, hari berlalu dengan sangat cepat. Sudah enam tahun, dan sudah terhitung lagi berapa frasa kata yang terucap untukmu di dalam doa. Salahku, yang terlalu perasa. Salahku, yang mengartikan segalanya dengan sangat berani. Kupikir, dengan ikuti aturanku, semua akan semakin sempurna. Lagi dan lagi, aku salah, dan kamu memilih untuk pergi. Ini juga salahku, karena tak mengunci langkahmu ketika ingin menjauh.
Setelah perpisahan itu, hari-hari yang kulalui masih sama. Aku masih menjalankan rutinitasku. Dan, aku mulai berusaha mencari penggantimu. Mereka berlalu-lalang, datang dan pergi, ada yang diam berlama-lama. Ada yang hanya ingin singgah. Semua berotasi, berputar, dan berganti. Namun, tak ada lagi yang sama, kali ini semua berbeda. Tak ada kamu yang dulu, tak ada kita yang dulu. Ya, semua kenangan memang berasal dari masa lalu tapi tetap punya tempat tersendiri di hati yang sedang bergerak ke masa depan.
Hidupku tak lagi sama, dan aku masih berjuang untuk melupakan sosokmu yang tak lagi terengkuh oleh pelukan. Padahal, aku masih jalani hari yang sama, aku masih menjadi diriku, dan jiwaku masih lekat dalam tubuhku. Tapi, masih ada yang kurang dan berbeda. Kesunyian ini bernama tanpamu.

Jika jemari ditakdirkan untuk menghapus air mata, mengapa kali ini aku ditakdirkan menghapus air mataku sendiri? Dimanakah jemarimu saat tak bisa kau hapuskan air mataku?



            15 Oktober 2006 - 15 Oktober 2012
Selamat (gagal) enam tahun.
Jika kau rindukan kita yang dulu, aku pun juga begitu  

Sabtu, 06 Oktober 2012

Mengais masa lalu

Diposting oleh Nizza al husna di 23.12 0 komentar

Kamu selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu
Memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan
Terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja
Seakan-akan sosokmu nyata
Menjelma menjadi pahlawan kesiangan
Yang merusak kebahagiaan

Dalam kenangan
kau seret aku perlahan
Menuju masa yang harusnya aku lupakan
Hingga aku kelelahan
Hingga aku sadar
bahwa aku sedang dipermainkan

Inikah caramu menyakitiku?
Inikah caramu mencabik-cabik perasaanku?
Apa dengan melihat tangisku
itu berarti bahagia buatmu?
Apa dengan menorehkan luka di hatiku
berarti kemenangan bagimu?

Siapa aku di matamu?
Hingga begitu sulit kau melepaskanku dari jeratanmu

Apakah boneka kecilmu ini dilarang untuk bahagia?
Apakah wayang yang sering kau mainkan ini dilarang untuk mencari kebebasan?
Mengapa kau selalu perlakukan aku seperti mainan?
Kapan kau ajari aku kebebasan?

Ajari aku caranya melupakan!
Meniadakan segala kecemasan
Meniadakan segala kenangan

Nyatanya derai air mataku
Hanya disebabkan olehmu

Ajari aku caranya melupakan
Sehingga aku lupa caranya menangis
Sehingga aku lupa caranya meratap
Karena aku selalu kenal air mata

Aku hanya ingin tertawa
Sehingga hati aku
mati rasa akan luka

Sabtu, 15 September 2012

Sebulan Menjelang

Diposting oleh Nizza al husna di 09.22 0 komentar


15 September 2012, satu bulan lagi apa yang akan terjadi?
Haruskah ku mengingat semua itu?  
Mengenangnya???
entahlah :')





151006-151012

Jumat, 31 Agustus 2012

Lagi... Tentang Kita

Diposting oleh Nizza al husna di 06.54 0 komentar
Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memerhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada di sana, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan lagi. Ini bukan yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosangan dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan. Karena jika aku terlalu terbawa emosi, aku bisa mati iseng sendiri.

Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang kurasakan, juga tak memiliki rindu yang tersimpan rapat-rapat. Aku sengaja menyembunyikan perasaan itu, agar kita tak lagi saling menganggu. Bukankah dengan berjauhan seperti ini, semua terasa jadi lebih berarti? Seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak miliki rasa perhatian. Bagiku, sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita.

Kali ini, aku tak akan menjelaskan tentang kesepian, atau bercerita tentang banyak hal yang mungkin saja sulit kaupahami. Karena aku sudah tahu, kamu sangat sulit diajak basa-basi, apalagi jika berbicara soal cinta mati. Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume lagu-lagu yang bernyanyi bahkan tanpa lirik yang tak bisa kauterjemahkan sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita-cerita absurd yang selalu kaubenci. Seperti dulu, saat aku bicara cinta, kau malah tertawa. Seperti saat kita masih bersama, aku berkata rindu, namun kautulikan telinga.

Hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kaudengar sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak suka jika kuceritakan tentang air mata bukan? Bagaimana kalau kualihkan air mata menjadi senyum pura-pura? Tentu saja, kau tak akan melihatnya, sejauh yang kutahu; kamu tidak peka. Dan, mungkin saja sifat burukmu masih sama, walaupun kita sudah lama berpisah dan sudah lama tak saling bertatap mata.

Entah mengapa, akhir-akhir ini sepi sekali. Aku seperti berbisik dan mendengar suaraku sendiri. Namun, aku masih saja heran, dalam gelapnya malam ternyata ada banyak cerita yang sempat terlewatkan. Ini tentang kita. Ah... sekarang kamu pasti sedang membuang muka, tak ingin membuka luka lama. Aku pun juga begitu, tak ingin menyentuh bayang-bayangmu yang semakin samar-samar, tak ingin mereka-reka senyummu yang tidak lagi seindah dulu.

Kalau boleh aku jujur, kata "dulu" begitu akrab di otak, pikiran, dan telingaku. Seperti ada sesuatu yang terjadi, sangat dekat, sangat mendalam, sampai-sampai tak mampu terhapus begitu saja oleh angkuhnya waktu dan jarak. Sudah kesekian kali, aku diam-diam menyebut namamu dalam sepi, dan membiarkan kenangan terbang mengikuti gelitik manja angin; tertiup jauh namun mungkin akan kembali.

Wajah baruku bisa kaulihat sendiri, terlihat lebih baik dan lebih hangat daripada saat awal perpisahan kita. Bicara tentang perpisahan, benarkah kita memang telah berpisah? Benarkah kita sudah saling melupakan? Jika memang ada kata "saling", tapi mengapa hatiku masih ingin terus mengikatmu? Dan, mengapa hingga saat ini kamu tak benar-benar menjauh? Kadang, jarak tak menjadi alasan untuk kita saling berbagi. Dalam serba ketidakjelasan, aku dan kamu masih saja menjalani... menjalani sesuatu yang tak tahu harus disebut apa. Tapi, katamu, masih ada rasa nyaman ketika kita kembali berdekatan. Terlalu tololkah jika kusebut belahan jiwa? Keterikatan aku dan kamu tak ada dalam status, tapi jiwa kita, napas kita, kerinduan kita; miliki denyut dan detak yang sama.

Tidak usah dibawa serius, hanya beberapa rangkaian paragraf bodoh untuk menemani rasa sepi yang sudah lama sekali datang menghantui. Sejak kamu tak lagi di sini, sejak aku dan kamu memilih jalan sendiri-sendiri, aku malah sering main dengan sepi, sulit untuk dipungkiri.

Sebentar lagi bulan Oktober. Ingat apa yang kita lakukan 6 tahun yang lalu? Tepatnya tanggal 15 :)

Kamu datang menghampiriku, mengajakku pulang. Mungkin kamu ingin menawariku tumpangan. Tapi, karena nyali mu masih ciut jadi kamu enggan untuk mengatakannya. Kamu mengiringi langkahku berjalan sambil bercerita semua tentang mu dan aku tentunya. Kamu mengajakku duduk di tepi sebentar lalu terus mengajakku bercerita apa saja dengan wajah ceriamu. Saat itu kamu terlihat malu-malu. Orang berkata cinta monyet, entah siapa yang monyet aku tidak tahu :D Sangat indah. Sekolah menengah pertama yang menjadi awal dari semua perjalanan kita. Ya, KITA. Aku dan kamu yang telah berganti menjadi KITA. Indah. Tapi, masa lalu, dulu. Sudah kubilang dari awal kan, "dulu" itu memang menyenangkan.


Diantara hati yang terasa sunyi
Dan aku masih merindukanmu



With love
Nizza :)




dwitasari

Kamis, 23 Agustus 2012

Hey, Tuan Egois !!!

Diposting oleh Nizza al husna di 06.04 0 komentar
Hey, Tuan Egois !!!


"Aku muak dengan semua kelakuanmu. Aku jengah dengan pola pikirmu. Aku lelah dengan caramu memperlakukanku. Aku jera dengan tutur kata dan caramu membentakku. Aku menyerah pada caramu menghakimi semua kesalahanku".





Kau pikir kau pengendali hidupku? Kau pikir kau pemilik jalan hidupku? Hingga begitu mudahnya kau mengatur pola pikirku, hingga begitu saja kau ubah keputusanku. Hey, Tuan Egois! Kau selalu menjadikanku kelinci percobaanmu, kau ubah diriku seperti yang kau mau, karena kau hanya mencintai perubahanku bukan aku yang apa adanya!


Kau sudutkan aku dalam dimensi penuh aturan mainmu, dimana kamulah yang jadi pemeran utama, dimana kamulah yang jadi aktor utama. Sementara aku hanya pemeran pembantu, yang tak kau biarkan untuk berkembang, yang selalu kau atur sesuai keinginanmu. Hey, Tuan Egois! Aku bukan binatang peliharaanmu, yang tetap setia tanpa alasan yang tak jelas!


Apakah aku mainan kesayanganmu? Hingga selalu kau salahkan aku ketika aku kadang mengecewakanmu. Hingga kau sudutkan aku ketika aku tak mampu menjadi seperti yang kau mau? Apakah aku boneka terindah milikmu? Yang bisa kau gerakkan seenak jidatmu, yang bisa kau mainkan sesuka hatimu. Kau pikir hatiku terbuat dari baja? Kau pikir otakku terbuat dari besi? Hingga kau memercayai bahwa aku tak mampu merasakan sakit sama sekali!


Kau selalu membandingkan aku pada semua wanita yang mengelilingi kamu. Hey, Tuan Egois! Kenapa kau tak memilih mereka saja sebagai boneka barumu? Kenapa kau tak memilih mereka yang lebih konsisten daripada aku yang selalu kau anggap salah dimatamu? Dimana otakmu, Tuan Egois? Otak yang selalu kau agungkan ketika aku selalu kau salahkan!


Siapakah aku dimatamu? Apakah aku hanyalah seonggok sampah yang tak terlihat di pelupuk matamu? Apakah aku hanya benalu yang menghalangi pertumbuhanmu? Apakah aku hanya batu sandungan yang menjungkalkan langkahmu? Kapan kau menganggapku sebagai anjing setia yang mencintaimu walau dalam keadaan terburukmu sekalipun? Kapan kau menghargai usahaku? Kapan kau menatap mataku dalam-dalam dan berkata “Aku mencintaimu begitu juga kekuranganmu”? Tapi, ternyata aku bukan siapa-siapa dimatamu, aku tak pernah ada saat kau melihat dunia. Aku selalu kau lupakan. Aku hanyalah sepi yang merindukan suasana hangat tapi kehangatan itu tak kudapatkan darimu.

Aku lelah mengikuti aturan mainmu, Tuan Egois. Aku kalah dan lelah. Aku jengah dan menyerah. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau atur jalan hidupnya. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau jadikan boneka kesayangamu. Jatuh cintalah pada wanita tolol yang menurutmu jauh lebih konsisten daripada aku. Kau tak pernah sadar bahwa wanita-wanita seperti itulah yang suatu saat akan membuatmu mengemis perhatian .

with love :)

Nizza





dwitasari

Selasa, 07 Agustus 2012

Seminggu Setelah Kepergianmu

Diposting oleh Nizza al husna di 05.31 0 komentar
Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox di handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah riuh di telingaku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap langkahku. Tak ada lagi pelukanmu yang meredam segala kecemasan. Tanpamu... semua berbeda dan tak lagi sama.

Aku membuka mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu, walau tak ada kamu yang memenuhi hari-hariku. Seringkali aku terbiasa melirik ke layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emote kiss yang memasok energiku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.

Lalu, aku menjalani semua aktivitasku, seperti biasa, kamu tentu tahu itu. Dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. Tak ada lagi pesan singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang harusnya aku lakukan. Tapi... entah mengapa aku seperti merasa kehilangan, tanpa pernah tahu apa yang telah hilang. Aku seperti mencari, tanpa tahu apa yang telah kutemukan.

Rasa ini begitu absurd dan sulit untuk dideskripsikan. Kamu membawa jiwaku melayang ke negeri antah-berantah, dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan tak kuketahui. Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajahku dan tubuhku. Aku tak mengenal sosok di dalam cermin itu. Tak ada aku dalam cermin yang kuperhatikan sejak tadi. Aku berbeda dan tidak lagi mengenal siapa diriku. Seseorang yang kukenal di dalam tubuhku kini menghilang secara magis setelah kepergian kamu. Kamu merampas habis cinta yang kupunya, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah di mana aku bisa menemukan diriku yang telah hilang itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang kukenal itu ke dalam tubuhku. Aku kebingungan dan kehilangan arah.

Ingin rasanya aku melempari segala macam benda agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa lagi melihat diriku yang tak lagi kukenal. Agar aku tak perlu menyadari perubahan yang begitu besar terjadi setelah kehilangan kamu. Aku bisa berhenti memercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi seperti ini. Aku mungkin akan berhenti memercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. Siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yang telah kau sebabkan.

Bagaimana mungkin aku bisa menemukan yang lebih baik jika aku pernah memiliki yang terbaik? Bagaimana mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?

Aku benci pada perpisahan. Entah mengapa dalam peristiwa itu harus ada yang terluka, sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa. Kamu tertawa dan aku terluka. Kita seperti saling menyakiti, tanpa tahu apa yang patut dibenci. Kita seperti saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.

Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Kamu tertawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit itu. Aku merasa sangat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemukan yang baru. Bagaimana mungkin aku harus menyebut semua adalah wujud kesetiaan? Begitu sulitnya aku melupakanmu, dan begitu mudahnya kamu melupakanku. Inikah caramu menyakiti seseorang yang tak pantas kau lukai?

Jam berganti hari, dan semua berputar... tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Aku tak menyangka, begitu mudahnya kamu menemukan penganti. Begitu gampangnya kamu melupakan semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apa kamu tak pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam di hatiku? Atau... mungkin saja kamu tak punya otak? Atau tak punya hati?

Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka air mata yang seringkali jatuh untukmu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.

Terimakasih.

Dengan luka seperti ini.

Dengan rasa sakit sedalam ini.

Aku jadi tambah sering menulis.

Lebih banyak dari biasanya.

Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis banyak hal.

Sama seperti aku, butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis... terutama yang bercerita tentangmu.

with love :)
Nizza



dwitasari

Kamis, 05 April 2012

Hanya karena Dia mencintaimu

Diposting oleh Nizza al husna di 02.24 0 komentar
"Hanya Karena Dia Mencintaimu"

Mungkin, kau lupa bahwa ada seseorang yang membiarkan air matanya terbujur kaku dipipinya, hanya karena dia tidak ingin melihat perubahanmu, hanya karena dia MENCINTAIMU."


Aku baru tahu ternyata kau memiliki kemampuan unik. Kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh pria-pria lainnya, membuat mata wanita bengkak karena terlalu lama menangisi sesuatu yang sempat kau sebut dengan mudah dan kau lupakan dengan mudah, cinta.

Kedatanganmu begitu sempurna, kaumembawa bekal yang katanya cinta, menghampiriku dengan janji-janji bisu yang terlihat akan kautepati. Lalu, kita mencoba untuk berjalan bersama, "menutup telinga" dari banyak cemooh dan hujatan orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang kita.

Beberapa bulan berlalu, kamu terlalu sibuk dengan sesuatu yang harus kaukejar dan kauraih, kariermu. Kaumelupakan seseorang yang selalu berada disampingmu. Kaumelupakan seseorang yang beberapa bulan terakhir bersedia menyiapkan telinganya untukmu, hanya untuk mendengar ceritamu. Kaumelupakan seseorang yang menjadi pelampiasan amarahmu, yang kausakiti hatinya saat kaulelah dengan semua rutinitasmu. Kaumelupakan seseorang yang berusaha meluangkan waktunya hanya untuk memastikan bahwa kesehatanmu terjaga dengan baik. Kaumelupakanku yang berusaha bertahan untukmu.

Sebenarnya, aku ini kau anggap apa? Sesekali kau mengemis, sesekali kau berlaku sadis. Seringkali kau baik, seringkali kau picik. Bisakah kau berhenti menjadikanku "boneka"? Aku seperti benda mati yang bisa kau sakiti sesuka hati. Aku layaknya robot tak berperasaan yang bisa kau bodohi kapanpun kau mau.

Kali ini aku sadar, bahwa usaha "bertahan" yang kulakukan hanya kauanggap sebagai sampah. Usahaku hanya kauanggap sebagai sesuatu yang tak pantas kau hargai. Kau berubah menjadi sesuatu yang kutakuti, menjadi manusia lain yang tak pernah kuketahui.

Aku sadar bahwa kau lebih mencintai duniamu daripada aku. Aku sadar bahwa kau lebih memikirkan keegoisanmu daripada kebahagiaanku. Semakin lama aku semakin yakin bahwa aku tak mampu lagi mengimbangimu. Aku tak mampu lagi menjadi sosok tegar yang mengokohkan langkah tegakmu.

Aku hanya masa lalu yang mencoba untuk menyadarkanmu, karena mungkin kaulupa bahwa ada seseorang yang membiarkan air matanya terbujur kaku dipipinya, hanya karena dia tidak ingin melihat perubahanmu, hanya karena dia MENCINTAIMU.


with love :) Nizza

Woman

Diposting oleh Nizza al husna di 01.32 0 komentar
WOMAN
Halo sekian milyar perempuan di seluruh dunia .
Hai, apa kabar? Masih sama dia? Masih mikirin dia? atau masih nangis-nangis tiap malam?

Halo, yang lagi suka diam-diam, susah ya jadi perempuan. Cuma bisa nge-stalk social account dia satu-satu. Terus bete sendiri tiap lihat dia dekat sama perempuan lain.

Halo yang lagi digantung sama gebetannya, susah ya jadi perempuan.Cuma bisa nunggu di sms, itu pun kamu jadi mainan tarik-ulur. Hari ini ramah, besoknya dijutekin minta ampun. Jemuran aja lebih dihargai loh, meski digantung pasti diangkat kan? kamu kok mau aja digantungin.

Halo yang lagi berantem sama pacarnya, susah ya jadi perempuan. Cuma bisa nunggu dia minta maaf. Suka gengsi dong kalau kita minta maaf duluan, mending kalau didengar, kalau nggak, harakiri aja deh.

Halo yang jaim-jaiman sama pacarnya, susah ya jadi perempuan. Salah sendiri sih punya pacar yang gak akrab. Jadi sama-sama canggung. Sama-sama pakai topeng. Malah gak jadi diri sendiri.

Halo yang pura-pura suka sama pacarnya, susah ya jadi perempuan. Kalau nolak nanti dikira jual mahal, tapi kalau nerima nanti dikira munafik. Katanya sih, daripada suka sama orang yang gak suka balik sama kita, mending terima orang yang suka sama kita, meski kitanya gak suka. Tapi aneh dong, pacarnya siapa, bahagianya sama siapa.

Halo yang lagi cemburu, susah ya jadi perempuan. Mau ngaku, dibilang cemburuan. Gak ngaku, dikira gak peduli. Akhirnya mendem sendiri ya? Eh, jadi ngebatin sendiri.

Halo yang lagi kangen, susah ya jadi perempuan. Dia sibuk ya? Kalau diem aja, capek sendiri. Kalau bilang kangen, nanti dikira gak pengertian.

Halo yang baru diputusin, susah ya jadi perempuan. Gengsi kan kalau mau ngaku gak rela? Jadi ngabisin tisu berapa kotak tuh? Sampai gak mau makan. Selama kamu gak salah apa-apa, berarti dia yang bego karena gak menyadari betapa hebatnya kamu, yang masih bertahan bahkan ketika dia mundur.

Halo yang lagi nyari-nyari kabar tentang mantan, susah ya jadi perempuan. Cuma bisa nyengir kuda waktu tau dia lagi deketin yang baru. Masa juga sih mau nangis-nangis minta balikan? Ketawa sama tembok aja deh.

Halo yang ngeceng-diam-jaim, susah ya jadi perempuan. Apalagi perempuan pendiam. Yang lain pada koar-koar ngejar gebetannya. Eh, kita cuma diam aja. Mending kehilangan harga diri atau dia? Tapi masa juga sih kita harus make a move duluan?

Halo yang lagi single, atau masih single? Susah ya jadi perempuan. Tenang aja, The smarter the woman is, the more difficult it is for her to find the right man. Gak percaya? Kalau kamu perempuan baik pasti maunya sama yang baik juga kan? Dan buat nyari yang baik luar-dalam-depan-belakang itu gak mudah.

Halo yang lagi move on, susah ya jadi perempuan. Nonton dikit, inget lagi. Buka twitter, inget lagi. Nabrak yang bermuka mirip, inget lagi. Lihat orang pacaran pun ngenes sendiri. Don’t dumb yourself down for the one who isn’t worth your tears. Dia gak akan ngontak kamu. Gak akan peduli sekalipun tau kamu nangis. Bakal pamer kalau udah punya pacar baru. Dan pasti ada yang lebih baik dari dia. Gak percaya? Sama sih, gue juga.

Duh, kamu gak setiap hari makan cinta kan? Berhenti deh mengagung-agungkan lima huruf berawalan C dan diakhiri A. Lagi jatuh cinta? Lagi sakit hati? Bumi berputar kok. Nanti juga berlalu. Pada akhirnya pilihannya cuma ditinggal atau tinggalkan.

Rabu, 14 November 2012

19th

Diposting oleh Nizza al husna di 02.24 0 komentar

              HAPPY BIRTHDAY TO ME :)

SELAMAT ULANG TAHUN NIZZA
THANKS FOR ALL, BUAT SEMUA YANG UDAH NGUCAPIN DAN MAKASIH BUAT DOANYA :-*

Allah SWT, terima kasih telah memberikan nikmat yang begitu besar bahkan tak dapat terhitung hingga sekarang.
Keluarga, thx for my parent, adik-adikku :-* I LOVE YOU
Sahabat, makasih ucapan dan doanya. semoga kita tetap saling berbagi :)
Teman-temanku, semoga doa-doa yg kalian ucapkan terkabul . amiiin.


Haii yang disana, apa kabar? Harusnya aku ga nunggu kamu buat ngucapin tapi nyatanya aku tetap menunggu. Betapa bodohnya aku. Tanpamu, aku bisa :') . Selamat tinggal. Mungkin ini awal yang baru untukku untuk "benar-benar" melupakanmu. 

Goodbye dear. 



and thanks all, terima kasih banyak kepada semua yang telah memberikan perhatiannya kepadaku. I LOVE YOU :-*

Minggu, 11 November 2012

"KAU"

Diposting oleh Nizza al husna di 02.49 0 komentar
Seandainya kau ada disini denganku

Mungkin ku tak sendiri


Bayanganmu yang selalu menemaniku


Hiasi malam sepiku


Kuingin bersama dirimu


Ku tak akan pernah berpaling darimu


Walau kini kujauh darimu


Kan slalu kunanti


Karena ku sayang kamu

Hati ini selalu memanggil namamu, dengarlah melatiku

 
Ku berjanji hanyalah untukmu cintaku


Adakah rindu dihatimu, seperti rindu yang kurasa


Haruskah ku terus terlena, tanpamu di sisiku


Ku kan slalu menantimu

Rabu, 24 Oktober 2012

Tanpamu :")

Diposting oleh Nizza al husna di 23.15 0 komentar

Tanpamu...
Aku terbangun seperti biasa. Menatap handphone beberapa lama lalu melirik diam-diam kearah jam. Menatap langit-langit kamar yang sama. Letak lemari, meja belajar, dan rak buku juga masih sama. Tak ada yang berbeda disini. Aku masih bernapas, jantungku masih berdetak, dan denyut nadiku masih bekerja normal. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti biasa, tapi apakah yang terlihat oleh mata benar-benar sama dengan yang dirasakan oleh hati?
Mataku berkunang-kunang, pagi tadi memang sangat dingin. Aku menarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam disana. Dan, tetap saja tak kutemukan kehangatan, tetap menggigilaku sendirian. Dengan kenangan yang masih menempel dalam sudut-sudut luas otak, seakan membekukan kinerja hati. Aku berharap semua hanya mimpi, dan ada seseorang yang secara sukarela membangunkanku atau menampar wajahku dengan sangat keras. Sungguh, aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang terlalu sering kukejar. Sekali lagi, aku masih sendiri, bermain dengan masa lalu yang sebenarnya tak pernah ingin kuingat lagi.
Sudah tanggal 15. Seberapa pentingkah tanggal itu? Ya memang tidak penting bagi siapapun yang tak mengalami hal special di tanggal 15. Kita masuk ke bulan Oktober. Bulan yang baru. Harapan baru. Mimpi yang baru. Cita-cita yang baru. Juga kadang, tak ada yang baru. Aku hanya ingin kau tahu, tak semua yang baru menjamin kebahagiaan. Dan, tak semua yang disebut masa lalu akan menghasilkan air mata. Aku begitu yakin pada hal itu, sampai pada akhirnya aku tahu rasanya perpisahan. Aku tahu rasanya melepaskan diri dari segala hal yang sebenarnya tak pernah ingin kutinggalkan. Aku semakin tahu, masa lalu setidaknya selalu jadi sebab. Kamu, yang dulu kumiliki tak lagi  bisa kugenggam dengan jemari.
Kita berpisah, tanpa alasan yang jelas, tanpa diskusi dan interupsi. Iya, berpisah, begitu saja. Seakan-akan semua hanyalah masalah sepele, bisa begitu mudah disentil oleh hentakkan kecil. Sangat mudah, sampai aku benar-benar mengerti, apakah kita memang telah benar-benar berpisah? Atau dulu, sebenarnya kita tak punya keterikatan apa-apa. Hanya saja aku dan kamu senang mendengungkan rasa yang sama, cinta yang dulu kita bela begitu manis berbisik. Lirih dingin memesona Segala yang semu menggoda aku dan kamu, kemudian menyatulah kita, dalam rasa (yang katanya) cinta.
Aku mulai berani melewati banyak hal bersamamu. Kita habiskan waktu, dengan langkah yang sama, dengan denyut yang tak berbeda, begitu seirama tanpa cela, tanpa cacat. Sempurna. Dan, aku bahagia. Bahagia? Benarkah aku dan kamu pernah merasa bahagia? Jika iya, mengapa kita memilih perpisahan sebagai jalan? Jika bahagia adalah jawaban, mengapa aku dan kamu masih sering bertanya-tanya? Pada tuhan, pada manusia lainnya, dan kepada hati kita sendiri. Kenapa harus kau ubah mimpi menjadi api? Mengapa kau ubah pelangi menjadi bui? Mengapa harus kau ciptakan luka, jika selama ini kau merasa kita telah sampai di puncak bahagia?
Kegelisahanku meningkat, ketika aku memikirkanmu, ketika aku memikirkan pola makanmu, juga kesehatanmu. Aku bahkan masih mengkhawatirkanmu, masih diam-diam mencari tahu kabarmu, dan aku masih merasa sakit jika tahu sudah ada yang lain, yang mengisi kekosongan hatimu. Seharusnya, aku tak perlu merasa seperti itu, karena kau masa lalu, karena kita tidak terikat apa-apa lagi. Benar, akulah yang bodoh, yang tak memutuskan diri untuk segera berhenti. Aku masih berjalan, terus berjalan, dengan penutup mata yang tak ingin kubuka. Semuanya gelap, tanpamu kosong.
Ternyata, hari berlalu dengan sangat cepat. Sudah enam tahun, dan sudah terhitung lagi berapa frasa kata yang terucap untukmu di dalam doa. Salahku, yang terlalu perasa. Salahku, yang mengartikan segalanya dengan sangat berani. Kupikir, dengan ikuti aturanku, semua akan semakin sempurna. Lagi dan lagi, aku salah, dan kamu memilih untuk pergi. Ini juga salahku, karena tak mengunci langkahmu ketika ingin menjauh.
Setelah perpisahan itu, hari-hari yang kulalui masih sama. Aku masih menjalankan rutinitasku. Dan, aku mulai berusaha mencari penggantimu. Mereka berlalu-lalang, datang dan pergi, ada yang diam berlama-lama. Ada yang hanya ingin singgah. Semua berotasi, berputar, dan berganti. Namun, tak ada lagi yang sama, kali ini semua berbeda. Tak ada kamu yang dulu, tak ada kita yang dulu. Ya, semua kenangan memang berasal dari masa lalu tapi tetap punya tempat tersendiri di hati yang sedang bergerak ke masa depan.
Hidupku tak lagi sama, dan aku masih berjuang untuk melupakan sosokmu yang tak lagi terengkuh oleh pelukan. Padahal, aku masih jalani hari yang sama, aku masih menjadi diriku, dan jiwaku masih lekat dalam tubuhku. Tapi, masih ada yang kurang dan berbeda. Kesunyian ini bernama tanpamu.

Jika jemari ditakdirkan untuk menghapus air mata, mengapa kali ini aku ditakdirkan menghapus air mataku sendiri? Dimanakah jemarimu saat tak bisa kau hapuskan air mataku?



            15 Oktober 2006 - 15 Oktober 2012
Selamat (gagal) enam tahun.
Jika kau rindukan kita yang dulu, aku pun juga begitu  

Sabtu, 06 Oktober 2012

Mengais masa lalu

Diposting oleh Nizza al husna di 23.12 0 komentar

Kamu selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu
Memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan
Terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja
Seakan-akan sosokmu nyata
Menjelma menjadi pahlawan kesiangan
Yang merusak kebahagiaan

Dalam kenangan
kau seret aku perlahan
Menuju masa yang harusnya aku lupakan
Hingga aku kelelahan
Hingga aku sadar
bahwa aku sedang dipermainkan

Inikah caramu menyakitiku?
Inikah caramu mencabik-cabik perasaanku?
Apa dengan melihat tangisku
itu berarti bahagia buatmu?
Apa dengan menorehkan luka di hatiku
berarti kemenangan bagimu?

Siapa aku di matamu?
Hingga begitu sulit kau melepaskanku dari jeratanmu

Apakah boneka kecilmu ini dilarang untuk bahagia?
Apakah wayang yang sering kau mainkan ini dilarang untuk mencari kebebasan?
Mengapa kau selalu perlakukan aku seperti mainan?
Kapan kau ajari aku kebebasan?

Ajari aku caranya melupakan!
Meniadakan segala kecemasan
Meniadakan segala kenangan

Nyatanya derai air mataku
Hanya disebabkan olehmu

Ajari aku caranya melupakan
Sehingga aku lupa caranya menangis
Sehingga aku lupa caranya meratap
Karena aku selalu kenal air mata

Aku hanya ingin tertawa
Sehingga hati aku
mati rasa akan luka

Sabtu, 15 September 2012

Sebulan Menjelang

Diposting oleh Nizza al husna di 09.22 0 komentar


15 September 2012, satu bulan lagi apa yang akan terjadi?
Haruskah ku mengingat semua itu?  
Mengenangnya???
entahlah :')





151006-151012

Jumat, 31 Agustus 2012

Lagi... Tentang Kita

Diposting oleh Nizza al husna di 06.54 0 komentar
Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memerhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada di sana, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan lagi. Ini bukan yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosangan dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan. Karena jika aku terlalu terbawa emosi, aku bisa mati iseng sendiri.

Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang kurasakan, juga tak memiliki rindu yang tersimpan rapat-rapat. Aku sengaja menyembunyikan perasaan itu, agar kita tak lagi saling menganggu. Bukankah dengan berjauhan seperti ini, semua terasa jadi lebih berarti? Seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak miliki rasa perhatian. Bagiku, sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita.

Kali ini, aku tak akan menjelaskan tentang kesepian, atau bercerita tentang banyak hal yang mungkin saja sulit kaupahami. Karena aku sudah tahu, kamu sangat sulit diajak basa-basi, apalagi jika berbicara soal cinta mati. Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume lagu-lagu yang bernyanyi bahkan tanpa lirik yang tak bisa kauterjemahkan sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita-cerita absurd yang selalu kaubenci. Seperti dulu, saat aku bicara cinta, kau malah tertawa. Seperti saat kita masih bersama, aku berkata rindu, namun kautulikan telinga.

Hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kaudengar sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak suka jika kuceritakan tentang air mata bukan? Bagaimana kalau kualihkan air mata menjadi senyum pura-pura? Tentu saja, kau tak akan melihatnya, sejauh yang kutahu; kamu tidak peka. Dan, mungkin saja sifat burukmu masih sama, walaupun kita sudah lama berpisah dan sudah lama tak saling bertatap mata.

Entah mengapa, akhir-akhir ini sepi sekali. Aku seperti berbisik dan mendengar suaraku sendiri. Namun, aku masih saja heran, dalam gelapnya malam ternyata ada banyak cerita yang sempat terlewatkan. Ini tentang kita. Ah... sekarang kamu pasti sedang membuang muka, tak ingin membuka luka lama. Aku pun juga begitu, tak ingin menyentuh bayang-bayangmu yang semakin samar-samar, tak ingin mereka-reka senyummu yang tidak lagi seindah dulu.

Kalau boleh aku jujur, kata "dulu" begitu akrab di otak, pikiran, dan telingaku. Seperti ada sesuatu yang terjadi, sangat dekat, sangat mendalam, sampai-sampai tak mampu terhapus begitu saja oleh angkuhnya waktu dan jarak. Sudah kesekian kali, aku diam-diam menyebut namamu dalam sepi, dan membiarkan kenangan terbang mengikuti gelitik manja angin; tertiup jauh namun mungkin akan kembali.

Wajah baruku bisa kaulihat sendiri, terlihat lebih baik dan lebih hangat daripada saat awal perpisahan kita. Bicara tentang perpisahan, benarkah kita memang telah berpisah? Benarkah kita sudah saling melupakan? Jika memang ada kata "saling", tapi mengapa hatiku masih ingin terus mengikatmu? Dan, mengapa hingga saat ini kamu tak benar-benar menjauh? Kadang, jarak tak menjadi alasan untuk kita saling berbagi. Dalam serba ketidakjelasan, aku dan kamu masih saja menjalani... menjalani sesuatu yang tak tahu harus disebut apa. Tapi, katamu, masih ada rasa nyaman ketika kita kembali berdekatan. Terlalu tololkah jika kusebut belahan jiwa? Keterikatan aku dan kamu tak ada dalam status, tapi jiwa kita, napas kita, kerinduan kita; miliki denyut dan detak yang sama.

Tidak usah dibawa serius, hanya beberapa rangkaian paragraf bodoh untuk menemani rasa sepi yang sudah lama sekali datang menghantui. Sejak kamu tak lagi di sini, sejak aku dan kamu memilih jalan sendiri-sendiri, aku malah sering main dengan sepi, sulit untuk dipungkiri.

Sebentar lagi bulan Oktober. Ingat apa yang kita lakukan 6 tahun yang lalu? Tepatnya tanggal 15 :)

Kamu datang menghampiriku, mengajakku pulang. Mungkin kamu ingin menawariku tumpangan. Tapi, karena nyali mu masih ciut jadi kamu enggan untuk mengatakannya. Kamu mengiringi langkahku berjalan sambil bercerita semua tentang mu dan aku tentunya. Kamu mengajakku duduk di tepi sebentar lalu terus mengajakku bercerita apa saja dengan wajah ceriamu. Saat itu kamu terlihat malu-malu. Orang berkata cinta monyet, entah siapa yang monyet aku tidak tahu :D Sangat indah. Sekolah menengah pertama yang menjadi awal dari semua perjalanan kita. Ya, KITA. Aku dan kamu yang telah berganti menjadi KITA. Indah. Tapi, masa lalu, dulu. Sudah kubilang dari awal kan, "dulu" itu memang menyenangkan.


Diantara hati yang terasa sunyi
Dan aku masih merindukanmu



With love
Nizza :)




dwitasari

Kamis, 23 Agustus 2012

Hey, Tuan Egois !!!

Diposting oleh Nizza al husna di 06.04 0 komentar
Hey, Tuan Egois !!!


"Aku muak dengan semua kelakuanmu. Aku jengah dengan pola pikirmu. Aku lelah dengan caramu memperlakukanku. Aku jera dengan tutur kata dan caramu membentakku. Aku menyerah pada caramu menghakimi semua kesalahanku".





Kau pikir kau pengendali hidupku? Kau pikir kau pemilik jalan hidupku? Hingga begitu mudahnya kau mengatur pola pikirku, hingga begitu saja kau ubah keputusanku. Hey, Tuan Egois! Kau selalu menjadikanku kelinci percobaanmu, kau ubah diriku seperti yang kau mau, karena kau hanya mencintai perubahanku bukan aku yang apa adanya!


Kau sudutkan aku dalam dimensi penuh aturan mainmu, dimana kamulah yang jadi pemeran utama, dimana kamulah yang jadi aktor utama. Sementara aku hanya pemeran pembantu, yang tak kau biarkan untuk berkembang, yang selalu kau atur sesuai keinginanmu. Hey, Tuan Egois! Aku bukan binatang peliharaanmu, yang tetap setia tanpa alasan yang tak jelas!


Apakah aku mainan kesayanganmu? Hingga selalu kau salahkan aku ketika aku kadang mengecewakanmu. Hingga kau sudutkan aku ketika aku tak mampu menjadi seperti yang kau mau? Apakah aku boneka terindah milikmu? Yang bisa kau gerakkan seenak jidatmu, yang bisa kau mainkan sesuka hatimu. Kau pikir hatiku terbuat dari baja? Kau pikir otakku terbuat dari besi? Hingga kau memercayai bahwa aku tak mampu merasakan sakit sama sekali!


Kau selalu membandingkan aku pada semua wanita yang mengelilingi kamu. Hey, Tuan Egois! Kenapa kau tak memilih mereka saja sebagai boneka barumu? Kenapa kau tak memilih mereka yang lebih konsisten daripada aku yang selalu kau anggap salah dimatamu? Dimana otakmu, Tuan Egois? Otak yang selalu kau agungkan ketika aku selalu kau salahkan!


Siapakah aku dimatamu? Apakah aku hanyalah seonggok sampah yang tak terlihat di pelupuk matamu? Apakah aku hanya benalu yang menghalangi pertumbuhanmu? Apakah aku hanya batu sandungan yang menjungkalkan langkahmu? Kapan kau menganggapku sebagai anjing setia yang mencintaimu walau dalam keadaan terburukmu sekalipun? Kapan kau menghargai usahaku? Kapan kau menatap mataku dalam-dalam dan berkata “Aku mencintaimu begitu juga kekuranganmu”? Tapi, ternyata aku bukan siapa-siapa dimatamu, aku tak pernah ada saat kau melihat dunia. Aku selalu kau lupakan. Aku hanyalah sepi yang merindukan suasana hangat tapi kehangatan itu tak kudapatkan darimu.

Aku lelah mengikuti aturan mainmu, Tuan Egois. Aku kalah dan lelah. Aku jengah dan menyerah. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau atur jalan hidupnya. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau jadikan boneka kesayangamu. Jatuh cintalah pada wanita tolol yang menurutmu jauh lebih konsisten daripada aku. Kau tak pernah sadar bahwa wanita-wanita seperti itulah yang suatu saat akan membuatmu mengemis perhatian .

with love :)

Nizza





dwitasari

Selasa, 07 Agustus 2012

Seminggu Setelah Kepergianmu

Diposting oleh Nizza al husna di 05.31 0 komentar
Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox di handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah riuh di telingaku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap langkahku. Tak ada lagi pelukanmu yang meredam segala kecemasan. Tanpamu... semua berbeda dan tak lagi sama.

Aku membuka mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu, walau tak ada kamu yang memenuhi hari-hariku. Seringkali aku terbiasa melirik ke layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emote kiss yang memasok energiku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.

Lalu, aku menjalani semua aktivitasku, seperti biasa, kamu tentu tahu itu. Dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. Tak ada lagi pesan singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang harusnya aku lakukan. Tapi... entah mengapa aku seperti merasa kehilangan, tanpa pernah tahu apa yang telah hilang. Aku seperti mencari, tanpa tahu apa yang telah kutemukan.

Rasa ini begitu absurd dan sulit untuk dideskripsikan. Kamu membawa jiwaku melayang ke negeri antah-berantah, dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan tak kuketahui. Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajahku dan tubuhku. Aku tak mengenal sosok di dalam cermin itu. Tak ada aku dalam cermin yang kuperhatikan sejak tadi. Aku berbeda dan tidak lagi mengenal siapa diriku. Seseorang yang kukenal di dalam tubuhku kini menghilang secara magis setelah kepergian kamu. Kamu merampas habis cinta yang kupunya, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah di mana aku bisa menemukan diriku yang telah hilang itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang kukenal itu ke dalam tubuhku. Aku kebingungan dan kehilangan arah.

Ingin rasanya aku melempari segala macam benda agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa lagi melihat diriku yang tak lagi kukenal. Agar aku tak perlu menyadari perubahan yang begitu besar terjadi setelah kehilangan kamu. Aku bisa berhenti memercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi seperti ini. Aku mungkin akan berhenti memercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. Siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yang telah kau sebabkan.

Bagaimana mungkin aku bisa menemukan yang lebih baik jika aku pernah memiliki yang terbaik? Bagaimana mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?

Aku benci pada perpisahan. Entah mengapa dalam peristiwa itu harus ada yang terluka, sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa. Kamu tertawa dan aku terluka. Kita seperti saling menyakiti, tanpa tahu apa yang patut dibenci. Kita seperti saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.

Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Kamu tertawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit itu. Aku merasa sangat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemukan yang baru. Bagaimana mungkin aku harus menyebut semua adalah wujud kesetiaan? Begitu sulitnya aku melupakanmu, dan begitu mudahnya kamu melupakanku. Inikah caramu menyakiti seseorang yang tak pantas kau lukai?

Jam berganti hari, dan semua berputar... tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Aku tak menyangka, begitu mudahnya kamu menemukan penganti. Begitu gampangnya kamu melupakan semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apa kamu tak pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam di hatiku? Atau... mungkin saja kamu tak punya otak? Atau tak punya hati?

Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka air mata yang seringkali jatuh untukmu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.

Terimakasih.

Dengan luka seperti ini.

Dengan rasa sakit sedalam ini.

Aku jadi tambah sering menulis.

Lebih banyak dari biasanya.

Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis banyak hal.

Sama seperti aku, butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis... terutama yang bercerita tentangmu.

with love :)
Nizza



dwitasari

Kamis, 05 April 2012

Hanya karena Dia mencintaimu

Diposting oleh Nizza al husna di 02.24 0 komentar
"Hanya Karena Dia Mencintaimu"

Mungkin, kau lupa bahwa ada seseorang yang membiarkan air matanya terbujur kaku dipipinya, hanya karena dia tidak ingin melihat perubahanmu, hanya karena dia MENCINTAIMU."


Aku baru tahu ternyata kau memiliki kemampuan unik. Kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh pria-pria lainnya, membuat mata wanita bengkak karena terlalu lama menangisi sesuatu yang sempat kau sebut dengan mudah dan kau lupakan dengan mudah, cinta.

Kedatanganmu begitu sempurna, kaumembawa bekal yang katanya cinta, menghampiriku dengan janji-janji bisu yang terlihat akan kautepati. Lalu, kita mencoba untuk berjalan bersama, "menutup telinga" dari banyak cemooh dan hujatan orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang kita.

Beberapa bulan berlalu, kamu terlalu sibuk dengan sesuatu yang harus kaukejar dan kauraih, kariermu. Kaumelupakan seseorang yang selalu berada disampingmu. Kaumelupakan seseorang yang beberapa bulan terakhir bersedia menyiapkan telinganya untukmu, hanya untuk mendengar ceritamu. Kaumelupakan seseorang yang menjadi pelampiasan amarahmu, yang kausakiti hatinya saat kaulelah dengan semua rutinitasmu. Kaumelupakan seseorang yang berusaha meluangkan waktunya hanya untuk memastikan bahwa kesehatanmu terjaga dengan baik. Kaumelupakanku yang berusaha bertahan untukmu.

Sebenarnya, aku ini kau anggap apa? Sesekali kau mengemis, sesekali kau berlaku sadis. Seringkali kau baik, seringkali kau picik. Bisakah kau berhenti menjadikanku "boneka"? Aku seperti benda mati yang bisa kau sakiti sesuka hati. Aku layaknya robot tak berperasaan yang bisa kau bodohi kapanpun kau mau.

Kali ini aku sadar, bahwa usaha "bertahan" yang kulakukan hanya kauanggap sebagai sampah. Usahaku hanya kauanggap sebagai sesuatu yang tak pantas kau hargai. Kau berubah menjadi sesuatu yang kutakuti, menjadi manusia lain yang tak pernah kuketahui.

Aku sadar bahwa kau lebih mencintai duniamu daripada aku. Aku sadar bahwa kau lebih memikirkan keegoisanmu daripada kebahagiaanku. Semakin lama aku semakin yakin bahwa aku tak mampu lagi mengimbangimu. Aku tak mampu lagi menjadi sosok tegar yang mengokohkan langkah tegakmu.

Aku hanya masa lalu yang mencoba untuk menyadarkanmu, karena mungkin kaulupa bahwa ada seseorang yang membiarkan air matanya terbujur kaku dipipinya, hanya karena dia tidak ingin melihat perubahanmu, hanya karena dia MENCINTAIMU.


with love :) Nizza

Woman

Diposting oleh Nizza al husna di 01.32 0 komentar
WOMAN
Halo sekian milyar perempuan di seluruh dunia .
Hai, apa kabar? Masih sama dia? Masih mikirin dia? atau masih nangis-nangis tiap malam?

Halo, yang lagi suka diam-diam, susah ya jadi perempuan. Cuma bisa nge-stalk social account dia satu-satu. Terus bete sendiri tiap lihat dia dekat sama perempuan lain.

Halo yang lagi digantung sama gebetannya, susah ya jadi perempuan.Cuma bisa nunggu di sms, itu pun kamu jadi mainan tarik-ulur. Hari ini ramah, besoknya dijutekin minta ampun. Jemuran aja lebih dihargai loh, meski digantung pasti diangkat kan? kamu kok mau aja digantungin.

Halo yang lagi berantem sama pacarnya, susah ya jadi perempuan. Cuma bisa nunggu dia minta maaf. Suka gengsi dong kalau kita minta maaf duluan, mending kalau didengar, kalau nggak, harakiri aja deh.

Halo yang jaim-jaiman sama pacarnya, susah ya jadi perempuan. Salah sendiri sih punya pacar yang gak akrab. Jadi sama-sama canggung. Sama-sama pakai topeng. Malah gak jadi diri sendiri.

Halo yang pura-pura suka sama pacarnya, susah ya jadi perempuan. Kalau nolak nanti dikira jual mahal, tapi kalau nerima nanti dikira munafik. Katanya sih, daripada suka sama orang yang gak suka balik sama kita, mending terima orang yang suka sama kita, meski kitanya gak suka. Tapi aneh dong, pacarnya siapa, bahagianya sama siapa.

Halo yang lagi cemburu, susah ya jadi perempuan. Mau ngaku, dibilang cemburuan. Gak ngaku, dikira gak peduli. Akhirnya mendem sendiri ya? Eh, jadi ngebatin sendiri.

Halo yang lagi kangen, susah ya jadi perempuan. Dia sibuk ya? Kalau diem aja, capek sendiri. Kalau bilang kangen, nanti dikira gak pengertian.

Halo yang baru diputusin, susah ya jadi perempuan. Gengsi kan kalau mau ngaku gak rela? Jadi ngabisin tisu berapa kotak tuh? Sampai gak mau makan. Selama kamu gak salah apa-apa, berarti dia yang bego karena gak menyadari betapa hebatnya kamu, yang masih bertahan bahkan ketika dia mundur.

Halo yang lagi nyari-nyari kabar tentang mantan, susah ya jadi perempuan. Cuma bisa nyengir kuda waktu tau dia lagi deketin yang baru. Masa juga sih mau nangis-nangis minta balikan? Ketawa sama tembok aja deh.

Halo yang ngeceng-diam-jaim, susah ya jadi perempuan. Apalagi perempuan pendiam. Yang lain pada koar-koar ngejar gebetannya. Eh, kita cuma diam aja. Mending kehilangan harga diri atau dia? Tapi masa juga sih kita harus make a move duluan?

Halo yang lagi single, atau masih single? Susah ya jadi perempuan. Tenang aja, The smarter the woman is, the more difficult it is for her to find the right man. Gak percaya? Kalau kamu perempuan baik pasti maunya sama yang baik juga kan? Dan buat nyari yang baik luar-dalam-depan-belakang itu gak mudah.

Halo yang lagi move on, susah ya jadi perempuan. Nonton dikit, inget lagi. Buka twitter, inget lagi. Nabrak yang bermuka mirip, inget lagi. Lihat orang pacaran pun ngenes sendiri. Don’t dumb yourself down for the one who isn’t worth your tears. Dia gak akan ngontak kamu. Gak akan peduli sekalipun tau kamu nangis. Bakal pamer kalau udah punya pacar baru. Dan pasti ada yang lebih baik dari dia. Gak percaya? Sama sih, gue juga.

Duh, kamu gak setiap hari makan cinta kan? Berhenti deh mengagung-agungkan lima huruf berawalan C dan diakhiri A. Lagi jatuh cinta? Lagi sakit hati? Bumi berputar kok. Nanti juga berlalu. Pada akhirnya pilihannya cuma ditinggal atau tinggalkan.
 

Nizza Al Husna Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea