Sabtu, 10 Mei 2014

Mungkin Aku Menyerah

Diposting oleh Nizza al husna di 08.20 1 komentar

Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba bersama merasakan hal yang indah. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu. Sekarang yang terjadiadalah sikapmu tak lagi sama seperti dulu. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Terlalu banyak janji yang kamu ucapkan dari mulut manismu, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati.  Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan berkali-kali.

Lihatlah aku yang setiap hari hanya terdiam, memendam semua kekesalan yang kamu perbuat. Pandanglah aku yang menyayangimu dengan tulus, namun dengan mudah kau menyatakan bahwa aku mempermainkanmu. Dimana letak hatimu?!  Sadarkah setiap perkataanmu selalu lukai hatiku? Apakah aku tak pantas mendapatkan kebahagian darimu? Terlalu banyak pertanyaan. Aku muak.

Entahlah, tak ada yang membuat kesalahan. Tapi aku merasa ada sesuatu yang salah diantara kita. Kamu dengan egomu, dan aku dengan kebodohanku. Ya, selalu begitu. Masih seperti dulu. Aku selalu menjadi wanita bodoh yang selalu mengikuti semua keinginanmu. Kamu selalu meminta semua keinginanmu terpenuhi, sedangkan aku? Hanya bisa mengalah, mengalah, dan mengalah. Sampai kapan aku harus bertahan? Sampai kapan aku merasakan kesakitan? Aku juga berhak mendapatkan kebahagiaan.

Di setiap perdebatan kita, kau selalu memutarbalikkan fakta. Akhirnya, masalah pun tak terselesaikan. Pembicaraan kita lari kesana-kemari. Tidak ada titik temu. Kau selalu mempertahankan pendapatmu, membentakku, dan mengucapkan bahasa-bahasa kotormu. Dan aku? Hanya bisa menangis. Bodoh sekali bukan? Perlakuan seperti apa lagi yang kamu mau? Belum cukupkah pengorbanan dan perjuanganku selama ini mempertahankanmu? Harus sedalam apalgi aku berjuang untukmu? Apakah hanya aku yang harus terus berjuang sedangkan kau tidak?

Ingatkah selama ini aku selalu memperjuangkan “kita”. Setiap hari aku hanya ingin membuatmu tertawa. Melakukan hal-hal yang tidak biasa kita lakukan agar kamu tidak jenuh padaku seperti memberimu kejutan di hari spesial kita dan perhatian-perhatian kecil lainnya. Semua kulakukan agar kamu selalu nyaman berada disampingku. Mencoba menjadi gadis penurut yang kau sukai. Mencoba mengikuti semua keinginanmu. SEMUA. Pernahkah kita membicarakan ini, tentu saja pernah, tapi kamu tak mengerti karena hanya kamu yang ingin dimengerti dan aku tidak.

Perbedaan. Itulah yang terjadi. Kamu bersikukuh dengan pemikiranmu. Keegoisanmu benar-benar membuatku muak. Kau menuduhku untuk semua hal yang nyaris tak pernah kulakukan dan mirisnya semua hal gtersebut kau yang lakukannya. Hal bodoh apa ini? Bisakah kau bersikap dewasa. Memikirkan semuanya dengan pemikiran rasional. Bagaimana bisa kau mengatakan hal-hal yang tak pernah ku lakukan dan kau yang melakukannya? ANEH.

Aku muak dengan semua kelakuanmu. Aku jengah dengan pola pikirmu. Aku lelah dengan caramu memperlakukanku. Aku jera dengan tutur kata dan caramu membentakku. Aku menyerah pada caramu menghakimi semua kesalahanku"

Aku baru tahu ternyata kau memiliki kemampuan unik. Kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh pria-pria lainnya, membuat mata wanita bengkak karena terlalu lama menangisi sesuatu yang sempat kau sebut dengan mudah dan kau lupakan dengan mudah, cinta.


Kedatanganmu begitu sempurna, kau membawa bekal yang katanya cinta, menghampiriku dengan janji-janji bisu yang terlihat akan kautepati.  Sebenarnya, aku ini kau anggap apa? Sesekali kau mengemis, sesekali kau berlaku sadis. Seringkali kau baik, seringkali kau picik. Bisakah kau berhenti menjadikanku "boneka"? Aku seperti benda mati yang bisa kau sakiti sesuka hati. Aku layaknya robot tak berperasaan yang bisa kau bodohi kapanpun kau mau.


Kali ini aku sadar, bahwa usaha "bertahan" yang kulakukan hanya kauanggap sebagai sampah. Usahaku hanya kauanggap sebagai sesuatu yang tak pantas kau hargai. Kau berubah menjadi sesuatu yang kutakuti, menjadi manusia lain yang tak pernah kuketahui. Aku sadar bahwa kau lebih mencintai duniamu daripada aku. Aku sadar bahwa kau lebih memikirkan keegoisanmu daripada kebahagiaanku. Semakin lama aku semakin yakin bahwa aku tak mampu lagi mengimbangimu. Aku tak mampu lagi menjadi sosok tegar yang mengokohkan langkah tegakmu.


Aku hanya seorang wanita yang mencoba untuk menyadarkanmu, karena mungkin kaulupa bahwa ada seseorang yang membiarkan air matanya terbujur kaku dipipinya, hanya karena dia tidak ingin melihat perubahanmu, hanya karena dia MENCINTAIMU.

Aku lelah mengikuti aturan mainmu, Tuan Egois. Aku kalah dan lelah. Aku jengah dan menyerah. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau atur jalan hidupnya. Yang terus mau mengikuti semua keinginanmu. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau jadikan boneka kesayangamu. Jatuh cintalah pada wanita tolol yang menurutmu jauh lebih konsisten daripada aku. Kau tak pernah sadar bahwa wanita-wanita seperti itulah yang suatu saat akan membuatmu mengemis perhatian 



Dari seseorang yang
kehabisan cara untuk bertahan, dan
 Sangat menyayangimu. 

Sabtu, 10 Mei 2014

Mungkin Aku Menyerah

Diposting oleh Nizza al husna di 08.20 1 komentar

Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba bersama merasakan hal yang indah. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu. Sekarang yang terjadiadalah sikapmu tak lagi sama seperti dulu. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Terlalu banyak janji yang kamu ucapkan dari mulut manismu, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati.  Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan berkali-kali.

Lihatlah aku yang setiap hari hanya terdiam, memendam semua kekesalan yang kamu perbuat. Pandanglah aku yang menyayangimu dengan tulus, namun dengan mudah kau menyatakan bahwa aku mempermainkanmu. Dimana letak hatimu?!  Sadarkah setiap perkataanmu selalu lukai hatiku? Apakah aku tak pantas mendapatkan kebahagian darimu? Terlalu banyak pertanyaan. Aku muak.

Entahlah, tak ada yang membuat kesalahan. Tapi aku merasa ada sesuatu yang salah diantara kita. Kamu dengan egomu, dan aku dengan kebodohanku. Ya, selalu begitu. Masih seperti dulu. Aku selalu menjadi wanita bodoh yang selalu mengikuti semua keinginanmu. Kamu selalu meminta semua keinginanmu terpenuhi, sedangkan aku? Hanya bisa mengalah, mengalah, dan mengalah. Sampai kapan aku harus bertahan? Sampai kapan aku merasakan kesakitan? Aku juga berhak mendapatkan kebahagiaan.

Di setiap perdebatan kita, kau selalu memutarbalikkan fakta. Akhirnya, masalah pun tak terselesaikan. Pembicaraan kita lari kesana-kemari. Tidak ada titik temu. Kau selalu mempertahankan pendapatmu, membentakku, dan mengucapkan bahasa-bahasa kotormu. Dan aku? Hanya bisa menangis. Bodoh sekali bukan? Perlakuan seperti apa lagi yang kamu mau? Belum cukupkah pengorbanan dan perjuanganku selama ini mempertahankanmu? Harus sedalam apalgi aku berjuang untukmu? Apakah hanya aku yang harus terus berjuang sedangkan kau tidak?

Ingatkah selama ini aku selalu memperjuangkan “kita”. Setiap hari aku hanya ingin membuatmu tertawa. Melakukan hal-hal yang tidak biasa kita lakukan agar kamu tidak jenuh padaku seperti memberimu kejutan di hari spesial kita dan perhatian-perhatian kecil lainnya. Semua kulakukan agar kamu selalu nyaman berada disampingku. Mencoba menjadi gadis penurut yang kau sukai. Mencoba mengikuti semua keinginanmu. SEMUA. Pernahkah kita membicarakan ini, tentu saja pernah, tapi kamu tak mengerti karena hanya kamu yang ingin dimengerti dan aku tidak.

Perbedaan. Itulah yang terjadi. Kamu bersikukuh dengan pemikiranmu. Keegoisanmu benar-benar membuatku muak. Kau menuduhku untuk semua hal yang nyaris tak pernah kulakukan dan mirisnya semua hal gtersebut kau yang lakukannya. Hal bodoh apa ini? Bisakah kau bersikap dewasa. Memikirkan semuanya dengan pemikiran rasional. Bagaimana bisa kau mengatakan hal-hal yang tak pernah ku lakukan dan kau yang melakukannya? ANEH.

Aku muak dengan semua kelakuanmu. Aku jengah dengan pola pikirmu. Aku lelah dengan caramu memperlakukanku. Aku jera dengan tutur kata dan caramu membentakku. Aku menyerah pada caramu menghakimi semua kesalahanku"

Aku baru tahu ternyata kau memiliki kemampuan unik. Kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh pria-pria lainnya, membuat mata wanita bengkak karena terlalu lama menangisi sesuatu yang sempat kau sebut dengan mudah dan kau lupakan dengan mudah, cinta.


Kedatanganmu begitu sempurna, kau membawa bekal yang katanya cinta, menghampiriku dengan janji-janji bisu yang terlihat akan kautepati.  Sebenarnya, aku ini kau anggap apa? Sesekali kau mengemis, sesekali kau berlaku sadis. Seringkali kau baik, seringkali kau picik. Bisakah kau berhenti menjadikanku "boneka"? Aku seperti benda mati yang bisa kau sakiti sesuka hati. Aku layaknya robot tak berperasaan yang bisa kau bodohi kapanpun kau mau.


Kali ini aku sadar, bahwa usaha "bertahan" yang kulakukan hanya kauanggap sebagai sampah. Usahaku hanya kauanggap sebagai sesuatu yang tak pantas kau hargai. Kau berubah menjadi sesuatu yang kutakuti, menjadi manusia lain yang tak pernah kuketahui. Aku sadar bahwa kau lebih mencintai duniamu daripada aku. Aku sadar bahwa kau lebih memikirkan keegoisanmu daripada kebahagiaanku. Semakin lama aku semakin yakin bahwa aku tak mampu lagi mengimbangimu. Aku tak mampu lagi menjadi sosok tegar yang mengokohkan langkah tegakmu.


Aku hanya seorang wanita yang mencoba untuk menyadarkanmu, karena mungkin kaulupa bahwa ada seseorang yang membiarkan air matanya terbujur kaku dipipinya, hanya karena dia tidak ingin melihat perubahanmu, hanya karena dia MENCINTAIMU.

Aku lelah mengikuti aturan mainmu, Tuan Egois. Aku kalah dan lelah. Aku jengah dan menyerah. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau atur jalan hidupnya. Yang terus mau mengikuti semua keinginanmu. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau jadikan boneka kesayangamu. Jatuh cintalah pada wanita tolol yang menurutmu jauh lebih konsisten daripada aku. Kau tak pernah sadar bahwa wanita-wanita seperti itulah yang suatu saat akan membuatmu mengemis perhatian 



Dari seseorang yang
kehabisan cara untuk bertahan, dan
 Sangat menyayangimu. 
 

Nizza Al Husna Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea