Rasanya
semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba bersama merasakan
hal yang indah. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu. Sekarang
yang terjadiadalah sikapmu tak lagi sama seperti dulu. Perhatianmu tak sedalam
perhatianku. Terlalu banyak janji yang kamu ucapkan dari mulut manismu, hingga
aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan
berkali-kali.
Lihatlah
aku yang setiap hari hanya terdiam, memendam semua kekesalan yang kamu perbuat.
Pandanglah aku yang menyayangimu dengan tulus, namun dengan mudah kau menyatakan
bahwa aku mempermainkanmu. Dimana letak hatimu?! Sadarkah setiap perkataanmu selalu lukai
hatiku? Apakah aku tak pantas mendapatkan kebahagian darimu? Terlalu banyak
pertanyaan. Aku muak.
Entahlah,
tak ada yang membuat kesalahan. Tapi aku merasa ada sesuatu yang salah diantara
kita. Kamu dengan egomu, dan aku dengan kebodohanku. Ya, selalu begitu. Masih
seperti dulu. Aku selalu menjadi wanita bodoh yang selalu mengikuti semua
keinginanmu. Kamu selalu meminta semua keinginanmu terpenuhi, sedangkan aku? Hanya
bisa mengalah, mengalah, dan mengalah. Sampai kapan aku harus bertahan? Sampai
kapan aku merasakan kesakitan? Aku juga berhak mendapatkan kebahagiaan.
Di
setiap perdebatan kita, kau selalu memutarbalikkan fakta. Akhirnya, masalah pun
tak terselesaikan. Pembicaraan kita lari kesana-kemari. Tidak ada titik temu.
Kau selalu mempertahankan pendapatmu, membentakku, dan mengucapkan bahasa-bahasa
kotormu. Dan aku? Hanya bisa menangis. Bodoh sekali bukan? Perlakuan seperti
apa lagi yang kamu mau? Belum cukupkah pengorbanan dan perjuanganku selama ini
mempertahankanmu? Harus sedalam apalgi aku berjuang untukmu? Apakah hanya aku
yang harus terus berjuang sedangkan kau tidak?
Ingatkah
selama ini aku selalu memperjuangkan “kita”. Setiap hari aku hanya ingin
membuatmu tertawa. Melakukan hal-hal yang tidak biasa kita lakukan agar kamu
tidak jenuh padaku seperti memberimu kejutan di hari spesial kita dan
perhatian-perhatian kecil lainnya. Semua kulakukan agar kamu selalu nyaman
berada disampingku. Mencoba menjadi gadis penurut yang kau sukai. Mencoba
mengikuti semua keinginanmu. SEMUA. Pernahkah kita membicarakan ini, tentu saja
pernah, tapi kamu tak mengerti karena hanya kamu yang ingin dimengerti dan aku
tidak.
Perbedaan.
Itulah yang terjadi. Kamu bersikukuh dengan pemikiranmu. Keegoisanmu
benar-benar membuatku muak. Kau menuduhku untuk semua hal yang nyaris tak
pernah kulakukan dan mirisnya semua hal gtersebut kau yang lakukannya. Hal
bodoh apa ini? Bisakah kau bersikap dewasa. Memikirkan semuanya dengan pemikiran
rasional. Bagaimana bisa kau mengatakan hal-hal yang tak pernah ku lakukan dan
kau yang melakukannya? ANEH.
Aku
muak dengan semua kelakuanmu. Aku jengah dengan pola pikirmu. Aku lelah dengan
caramu memperlakukanku. Aku jera dengan tutur kata dan caramu membentakku. Aku
menyerah pada caramu menghakimi semua kesalahanku"
Aku baru tahu ternyata kau
memiliki kemampuan unik. Kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh pria-pria
lainnya, membuat mata wanita bengkak karena terlalu lama menangisi sesuatu yang
sempat kau sebut dengan mudah dan kau lupakan dengan mudah, cinta.
Kedatanganmu begitu sempurna, kau membawa bekal
yang katanya cinta, menghampiriku dengan janji-janji bisu yang terlihat akan
kautepati. Sebenarnya, aku ini kau anggap
apa? Sesekali kau mengemis, sesekali kau berlaku sadis. Seringkali kau baik,
seringkali kau picik. Bisakah kau berhenti menjadikanku "boneka"? Aku
seperti benda mati yang bisa kau sakiti sesuka hati. Aku layaknya robot tak
berperasaan yang bisa kau bodohi kapanpun kau mau.
Kali ini aku sadar, bahwa usaha
"bertahan" yang kulakukan hanya kauanggap sebagai sampah. Usahaku
hanya kauanggap sebagai sesuatu yang tak pantas kau hargai. Kau berubah menjadi
sesuatu yang kutakuti, menjadi manusia lain yang tak pernah kuketahui. Aku sadar bahwa kau lebih mencintai duniamu
daripada aku. Aku sadar bahwa kau lebih memikirkan keegoisanmu daripada
kebahagiaanku. Semakin lama aku semakin yakin bahwa aku tak mampu lagi
mengimbangimu. Aku tak mampu lagi menjadi sosok tegar yang mengokohkan langkah
tegakmu.
Aku hanya seorang wanita yang
mencoba untuk menyadarkanmu, karena mungkin kaulupa bahwa ada seseorang yang
membiarkan air matanya terbujur kaku dipipinya, hanya karena dia tidak ingin
melihat perubahanmu, hanya karena dia MENCINTAIMU.
Aku lelah mengikuti aturan mainmu, Tuan Egois. Aku kalah dan lelah. Aku jengah dan menyerah. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau atur jalan hidupnya. Yang terus mau mengikuti semua keinginanmu. Jatuh cintalah pada wanita yang mau kau jadikan boneka kesayangamu. Jatuh cintalah pada wanita tolol yang menurutmu jauh lebih konsisten daripada aku. Kau tak pernah sadar bahwa wanita-wanita seperti itulah yang suatu saat akan membuatmu mengemis perhatian
Dari
seseorang yang
kehabisan
cara untuk bertahan, dan
Sangat menyayangimu.
