“Saya bukan "robot", saya tahu rasa
sakit itu seperti apa, saya juga tahu rasanya diabaikan itu seperti apa”
Ini tentang perasaan saya kepada seseorang. Dia
(mungkin) mengira saya adalah "robot" yang tidak memiliki perasaan
dan tidak dapat merasakan sakit, sehingga dia bisa mengabaikan saya sesering
yang dia suka. Saya selalu memberi perhatian terbaik yang bisa saya berikan,
sesering mungkin saya mengingatkan dia agar tidak telat makan, dan sesabar
mungkin saya mendengar semua cerita dan permasalahannya. Sayangnya, usaha
terbaik saya lebih sering mendapat pengabaian, kadang dia merespon tapi respon
itu tidak dia berikan dengan sungguh-sungguh. Respon itu malah terlihat seperti
penghiburaan untuk seorang "robot" yang telah kelelahan dan
kebingungan.
Empat bulan terakhir ini, saya tidak mengerti, apakah
semua yang saya lakukan untuk dia adalah hal yang sia-sia atau tidak? Saya
tidak mengerti, apakah benih baik yang saya tabur telah siap menuai kebaikan
yang saya harapkan atau tidak menghasilkan sama sekali.
Apakah yang saya lakukan selama ini adalah rencana
pembahagiaan atau sesuatu yang berpeluang membuat saya kesakitan? Dia berkata
sayang dan kangen, tapi kenyataannya dia tidak pernah membuktikan sayang dan
kangen itu melalui tindakannya yang cenderung sangat amat cuek. Dia berkata
maaf, tapi kenyataannya dia mengulang kesalahan yang sama, lagi dan lagi.
Bahkan, saat saya menunjukan sikap lelah untuk berharap, dia belum tentu peduli
dan memikirkan perasaan saya. Komunikasi yang tercipta satu arah, selalu inisiatif
dari saya. Dia tak kunjung memberi kejelasan. Saya benci diabaikan.
Kalau benci diabaikan, lalu kenapa saya tetap bertahan
saat saya perhatian tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan saat saya merasa
kangen tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan dianggap “robot”? Kenapa saya
bertahan diabaikan? Bahkan semua wanita normal pun tidak ingin mengalami hal
seperti ini, tapi kenapa saya bertahan?
Saya memang tidak pernah menuntut perhatian lebih,
karena menurut saya, dia adalah orang yang memiliki segudang kesibukan yang
(mungkin) tidak punya waktu untuk memikirkan orang lain.
Kamu memang pernah membajak otak saya. Disetiap selnya
berisi KAMU. Saya sering menulis tentang kamu, memikirkan kamu dan merindukan
kamu. Tapi, saya pun juga harus memikirkan, apakah saya merasa bahagia saat
menyayangi dan memberi perhatian kepada kamu dengan tulus? Saya percaya, cinta
itu harusnya mengobati bukan melukai. Saya lelah, kebingungan. Kamu tidak
kunjung memberikan tanda. Saya bukan "robot", saya tahu rasa sakit
itu seperti apa, saya juga tahu rasanya diabaikan itu seperti apa.
Empat bulan terakhir, kamu yang terbaik. Empat bulan terakhir,
cuma kamu yang dapat menyakiti saya dan cuma kamu yang bisa jadi obatnya. Empat
bulan, terakhir ...
